12
Jun
09

…CINTA ? GILA ?…

1193842605

Apa ini sebenarnya ??

Yang berdesir desir dalam hatiku..

Perasaan apa ini..

Yang selalu buat jantungku berdetak tak menentu..

Beberapa saat berdetak begitu cepat,

Dan sesaat berikutnya menjadi sangat lambat..

Perasaan apa ini..

Terkadang aku menjadi sangat merindukannya..

Baru kali ini,

Aku merasakan mulutku seakan terkunci..

Baru kali ini,

Begitu sulit aku mengatakan :

“Aku menyayangimu, dan kini aku sedang merindukanmu”

Apa ini Cinta ??

Atau ini Gila ??

11
Jun
09

Cerita Yang Tertunda

suramadu

10 Juni 2009

SURAMADU sudah diresmikan…

Itu artinya : mungkin tak akan ada lagi “DHARMA FERRY 1” ataupun “DHARMA FERRY 2” begitu pula dengan FERRY* lainnya..

Apa itu juga berarti segala kenangan akan hilang ?

Hampir + 2 tahun yang lalu waktu luangku kuhabiskan menyeberangi selat ini,

merasakan kenikmatan atas kerinduan dan kebahagiaan saat berada di atas kapal-kapal itu..

Masih segar di ingatanku…

Aku, kamu, kita sama sama menikmati hempasan angin menerpa wajah, mengacak rambut secara ugal ugalan

Banyak cinta.. Banyak romansa..

Setiap waktu dalam hidupku selalu saja kuisi dengan bertanya :

“Apa aku salah ?”

Dan kini, untuk kesekian kalinya aku bertanya :

“Apa aku salah jika masih menyimpan semuanya ?”

“Apa aku salah jika terkadang aku masih merindukannya ?”

cap002

-Dalam kesendirianku menikmati hujan-

09
Jun
09

KEBERANIAN YANG MUNCUL DARI DALAM JIWA

“Keberanian yang muncul dari dalam jiwa”

Itu arti dari sebuah nama… Yang selalu dipakai seseorang di semua perambah yang dia miliki.

Apa hubungannya dengan tulisan yang akan aku bagikan ke kalian hari ini ?

Yang pertama adalah karena memang itu yang mendorongku untuk mengungkapkan perasaanku di blog ini, kepada kalian.

Yang kedua, karna seseorang itulah yang membuat hari hariku kembali berwarna.

Sebenarnya aku sudah lama mengenalnya, lebih tepatnya hanya tau dari persepsi persepsi orang lain yang tau tentang dia (mungkin juga berdasarkan persepsi persepsinya sendiri).

Persepsi beradu dengan persepsi.. Fiuft…

Dari 8 tahun yang lalu aku tak pernah punya keinginan untuk mengenalnya secara langsung, bukan tanpa alasan, tentu aku punya alasan untuk itu.

Seorang sahabat, yang begitu aq sayang (walau aku tau, aku tak pernah jadi sahabat yang baik untuknya), memujanya. Itu satu-satunya alasan dan buatku itu cukup kuat untuk aku tetap berpendirian teguh tidak akan pernah berusaha mengenalnya sekalipun dengan tujuan jadi ”mak comblang” untuk mereka berdua.

Hal itu terus berlanjut sampai kira kira sebulan lebih yang lalu. Aku cukup mengenalnya lewat cerita dari sahabatku. Dia yang begini, dia yang begitu. Semuanya aku tau….

Dan hari itu……

Seperti hari hari sebelumnya, aku berkutat dengan jaringan di mana aq bisa menghibur diri, di mana aq bisa bertemu dengan teman temanQ walau hanya di dunia maya. Dan aku menemukan dia.

Tanpa perasaan apa apa aku meng-klik pilihan untuk memintanya menjadi temanku, dan itu aku lakukan tanpa alasan. Itu memang salah satu kebiasaan burukku, hanya agar daftar temanku bertambah. Sesudahnya, aku melupakannya. Aku lupa aku sudah mengirim request padanya, aku tak tau (tak peduli) apa dia sudah menerimanya. Aku hanya peduli pada mereka yang mengirimkan sesuatu di halamanku (hanya itu yang menjadi pusat perhatianku).

Tapi malam itu (aku ingat sekali saat itu aku sedang bersama seseorang dan sepupunya, makan nasi goreng di jalan on de moghen) ada pesan masuk di ponselku, dan yang tidak aku sangka, ternyata itu ”dia” (sepertinya sudah mulai terlalu banyak dia, jadi kita sebut saja laki laki itu ”Wee”). Awalnya aku ragu ragu untuk membalasnya. Tapi entah mengapa aku reply juga pesannya.

Ada satu hal lagi yang belum aku ceritakan, beberapa hari sebelumnya, seorang sahabat yang lain (sebut saja dia ”Tha”) bercerita dan meminta pendapat padaku tentang perasaannya. Tha bilang padaku dia sedang menyukai seseorang. Aku pun mendukungnya.

Dan malam itu aku menyadari sesuatu ( setelah beberapa kali berinteraksi dengan Wee) bahwa seseorang yang selalu diceritakan oleh Tha adalah Wee.

Oh, Geezz, semuanya membuatku terkejut.

menantifajar

Sejak itu aku semakin berfikir keras, apa aku harus melanjutkan ”hubungan” pertemananku dengan Wee. Selama itu pula aku memilih untuk tidak terlalu sering berinteraksi dengannya (dengan harapan pada akhirnya kami akan sama sama bosan dengan keadaan itu dan meninggalkan hubungan ini). Tapi entah bagaimana, aku justru semakin terikat padanya. Dan semakin lama, justru dia semakin mempesonaku (aku memang belum pernah bertemu dengannya, tapi dia bisa membuatku terpesona. Aneh, dan tak bisa diterima oleh logika.. Ya, aku mengakuinya. Tapi aku yakin kalian tak akan mengatakannya jika sudah mengenalnya)

Dia sederhana, tegas, dan cerdas (poin terakhir yang paling penting).

Aku tak bisa memungkiri, kalau aku mulai menyukainya  (kini aku tau mengapa kedua sahabatku memujanya).

Tapi saat aku mulai menyadari itu, sahabatku yang pernah begitu memujanya (mungkin sampai saat ini – aku tak tau, karna kami sudah terpisah oleh jarak dan waktu) menceritakan banyak hal padaku (dan yang paling banyak menguras perhatian sekaligus otakku adalah cerita dia tentang Wee).

Itu membuatku merasa begitu bersalah,

Aku tak pernah bisa jadi sahabat yang baik untuknya, tak pernah ada saat dia membutuhkanku, aku hanya peduli pada diriku sendiri.

Dan sekarang, aku membohonginya. Saat ini aku menyukai orang yang selama ini membuat malamnya tak tenang, membuatnya bahagia karna cinta yang dia rasakan sekaligus menangis karna cintanya bertepuk sebelah tangan (aku bisa merasakannya karna akupun pernah mengalami hal yang sama, hanya bisa mencintai seseorang tanpa bisa mendapatkan cintanya, pahit memang).

Akhirnya aku menangis, aku merasa begitu bersalah. Aku begitu marah pada diriku sendiri, AKU, tega menyakiti hati sahabatku walau dia tak menyadarinya.

Sejak saat itu aku memutuskan untuk tidak menggubris Wee lagi. Aku memutuskan untuk meletakkan perasaanku ini padanya (toh aku belum terlanjur jatuh cinta).

Hari demi hari berlalu, Wee tak pernah berhenti mencariku. Sekalipun aku tak pernah menanggapi pencariannya itu. Aku tak bisa menyakiti sahabatku, aku tak mau. Ini bukan hanya masalahku dengan seorang sahabat, tapi 2 orang sahabat. Aku tak mau kehilangan mereka.

Hari ke-6, Wee tak berubah. Dia tetap melakukannya. Dia tetap mencariku.

Oh, Geez, apa yang harus aku lakukan sekarang ? Semakin aku berusaha melepaskan, semakin aku terikat. Tak jarang aku merasa begitu ingin menghubunginya, begitu ingin bercerita tentang banyak hal lagi seperti sebelumnya. Huft……………..

Sampai akhirnya, di hari ke-7 (26 Mei 2009), sekali lagi Wee menghubungiku. Dan entah mengapa, hari itu aku menerimanya dan aku membiarkan diriku terbawa perasaan yang kuhindari sebelumnya.

Apa aku salah ?

Aku tak bisa menahan perasaanku. Aku tak bisa membohongi diriku, bahwa aku menyukainya. Dan aku rasa semakin lama perasaan itu semakin tumbuh subur di hatiku dan menjadi sempurna. Aku menyayanginya.

Aku tak pernah mengatakan yang sejujurnya saat Wee bertanya apa yang terjadi padaku. Aku hanya katakan : aku diam karna aku ingin dapat jawaban.

Hhh………………

Bahkan setelah semua ini aku hanya bisa berkata ”Maafkan aku…” (itupun tidak secara langsung) pada kedua sahabatku.

Aku tak pernah bermaksud seperti itu, dan ini sama sekali bukan mauku.

Kadang aku bingung, haruskah aku menyesal ?

Satu sisi hatiku menyesal, mengapa waktu itu aku bertemu dengannya, mengapa waktu itu aku memintanya untuk menjadi temanku di dunia maya.

Tapi di sisi lain, aku tak ingin kehilangan ini semua, aku tak ingin kehilangan dia.

Buatku, dia begitu istimewa.

Kalau kebanyakan laki laki selama ini selalu menuruti keinginanku, menuruti kemanjaanku hanya untuk mendapatkan perhatian dan cintaku, dia tak seperti itu. Dia justru mengatakan, dia tak suka. Bukan berarti dalam waktu singkat aku harus berubah, dia pun mau memanjakanku, tapi tidak setiap waktu.

Saat aku melakukan kesalahan, dia menunjukkan kesalahanku, dan mengajariku melakukan yang seharusnya aku lakukan.

Saat aku menceritakan masalahku, dia selalu mendengarkanku, dan memberiku solusi untuk menyelesaikannya.

Dia selalu tau, kapan saat yang tepat untuk memanjakanku, kapan saat yang tepat untuk membuat pipiku memerah karna kata-katanya, kapan saatnya bersikap tegas padaku.

Dia selalu membimbingku, dia bisa mengendalikanku (selama ini bahkan orang tuaku pun tak bisa), dia membuatku sadar bahwa semua hal buruk dalam diri dan hidupku harus segera kurubah.

Sekali lagi aku harus bertanya :

Apa aku salah ?

Aku menyayanginya, aku berharap bisa terus bersamanya, dan aku berharap menjalani hidupku dengannya.

Apa aku gila ?

Aku berharap Tuhan memang menciptakan dia untukku, begitu juga sebaliknya.

Tolong berikan aku jawaban… Segera…………

20
Mei
09

g!rL pOw3R

Pagi tadi ada yang seseorang berkata padaku :

”Perempuan kalo disakitin bisa berubah jadi kejam ya, Na ?”

Aku menjawabnya dengan senyuman (lebih karena aku tidak tau maksud kata katanya itu). Tapi kemudian aku pun mengiyakan : ”Iyah, makanya jangan macem macem sama perempuan” Jawaban itu disambut gelak tawa teman temanku yang lain yang secara kebetulan mendengarnya (sebenarnya aku sama sekali tak mengerti mengapa mereka tertawa dengan jawabanku).

 

Tak lama cerita pun bergulir dari mulut seseorang itu, tentang seorang ibu yang pagi itu datang ke kantor (tapi aku tak tau) demi berkelakar tentang masalah dalam keluarganya setelah hari sebelumnya suaminya datang dan menangis nangis bercerita tentang dia yang tak diijinkan bertemu dengan anaknya (anaknya sendiri pun tak mau bertemu dengannya karena pengaruh dari ibunya). Aku sama sekali tak mengerti mengapa mereka berdua membiarkan masalah pribadi mereka dikonsumsi publik. Mengapa mereka tidak merasa malu saling membongkar kekurangan masing masing. Apa mereka sudah melupakan ikrar pada saat perkawinan mereka ? Bukannya aib seorang suami, itu berarti aib istrinya, dan begitu juga sebaliknya (bahkan aku yang belum pernah menikah saja bisa mengerti, tapi mengapa mereka tidak ?)

Menurut seseorang yang mengerti benar cerita itu (entah darimana dia tau), sang suami ternyata yang memulai perseteruan itu. Tak hanya sekali dua kali istrinya memergoki dia sedang bersama wanita lain, bahkan membawanya ke rumah mereka (maaf aku harus mengatakan, ini salah satu kebejatan moral masyarakat kita, tak hanya lelaki, para wanita pun sekarang banyak yang tak bisa menghargai dirinya sendiri –aku mengatakan ini bukan karena aku merasa aku paling baik, paling sempurna, tak ada cacat atau tak punya dosa, tolong diingat-, lalu siapa yang harus disalahkan atas keadaan seperti ini ? Para orang tua, lingkungan, diri sendiri, atau justru Tuhan ? aku tak setuju dengan pilihan terakhir ini, ada baiknya tidak membawa nama Tuhan untuk menutupi kenyataan bahwa sekarang Neraka sudah pindah ke dunia).

Bukan aku mau membela sang istri karena sama sama perempuan, kita memang tidak bisa menilai hanya dari satu sisi saja. Segala akibat pasti ada sebabnya. Mana tau, mungkin sang istri pernah melakukan kesalahan yang membuat sang suami berpaling kepada perempuan perempuan lain (lebih dari satu), mungkin sang suami hanya mencari pelampiasan. Tapi aku juga tidak akan menyetujui tindakan sang suami yang tak bermoral itu (kita memang tak pernah tau apa yang dilakukannya bersama perempuan perempuan itu, aku hanya memikirkan kemungkinan terburuk –seperti yang selalu diajarkan oleh mamaku-, ML misalnya), karena menurutku (sekarang -baru sekarang aku bisa berfikir sedewasa ini-) segala permasalahan pasti ada jalan keluarnya, tak seharusnya dia melakukan itu semua, dan menjadikan semuanya bertambah buruk, dan sekarang di ambang kehancuran.

 

B4xkP0UbgY

 

Tapi sudahlah, toh itu bukan urusanku, masalahku sendiri sudah terlalu menguras pikiran, tak ada tempat lagi di otakku untuk memikirkan masalah orang lain. Haha….. Huft………..

 

Soal kenapa aku mengiyakan pernyataan seseorang itu, lebih karena aku sendiri pernah mengalaminya. Aku memang mengatakan bahwa aku memaafkan saat aku disakiti, tapi bukan berarti aku melupakannya (saat menulis ini aku jadi sadar, seseorang pernah mengatakan seperti ini padaku saat aku melakukan kesalahan dan membuatnya marah, sekarang aku membenarkannya). Dan setelahnya aku justru melakukan hal yang beribu kali lebih menyakitkan hatinya dari yang pernah dia lakukan padaku.

 

Kalian boleh bilang aku tak berperasaan, pendendam, atau apapun. Aku sendiripun menyadari bahwa aku salah. Tapi terkadang emosi justru mengalahkan logika. Dan aku sama sekali tak merasa bersalah telah melakukannya.

 marah1

Sekarang, terserah kalian, apa pendapat kalian tentang pernyataan itu :

”Perempuan bisa berubah menjadi kejam (lebih dari yang kalian tau –terutama para lelaki-) jika disakiti”

20
Mei
09

Dharma Ferry

IMG_SMDR_002

Aku menamakannya “jalan untuk menuju padamu”

Karena setiap kali aku melewatinya, selalu hanya untuk bertemu denganmu..

 

Perasaan itu masih sama, dan aku tak bermaksud menghindarinya

Meski sekarang aku ada di sana bukan untuk menemuimu

Walau aku berharap demikian……

 

-Antara Surabaya dan Madura, 30 menit perjalanan di selatnya-

19
Mei
09

…Spirit Of My Life…

coverdiaryoflosszf0

Tiga bulan lalu, kira kira pertengahan Februari 2009, seorang teman meminjamkanku sebuah buku, yang ditulis sesuai kisah nyata penulisnya. Aku memang suka sekali membaca, tetapi bukan itu alasan aq membaca buku itu tanpa ’jeda’ lalu kemudian membeli buku yang sama untuk kumiliki sendiri. Alasan satu satunya adalah karena buku itu benar benar menggetarkan hatiku.

 

Judul buku itu ”DIARY OF LOSS” yang ditulis oleh seorang ”INNA HUDAYA”. Setiap adegan dalam buku ini sama persis dengan apa yang dialami oleh Mbak Inna (begitu aku memanggilnya), tak ada yang ditambahi atau dikurangi hanya untuk menambah ”greget” (karena tanpa tambahan pun cerita ini –aku yakin- sudah mampu membuat hati pembacanya berdesir).

 

Aku rasa kalian pun harus membaca bukunya, jika hati kalian tidak berdesir, boleh protes padaku melalui blog ini.

 

JUDUL BUKU : DIARY OF LOSS

PENULIS : INNA HUDAYA

 

Satu hal lagi yang membuatku begitu mengagumi sosok Mbak Inna, karena dia berhasil menantang kejinya kehidupan, dan terbukti, dia menang.

 

Apa yang ditulis sama Mbak Inna, membuatku sadar kalau aku gag sendirian. Apa yang dialami sama Mbak Inna jauh lebih berat dari yang aku alami, tapi justru aku yang lebih dulu dan lebih dalam terpuruk meratapi nasibku dan menyesali perjalanan hidupku yang pernah terjebak dalam lembah hitam. Sejak membaca buku itu, aku jadi punya semangat untuk melangkah, menatap masa depanku (yang aku yakin akan indah –keyakinan ini aku dapat dari SARTIKA NASMAR, salah satu rekan Mbak Inna di SAMSARA INDONESIA, yang sekarang jadi sahabatku –aku harap dia pun berfikir seperti itu-).

 

Bagaimana aku mengenal mereka, dan mengapa aku berharap mengenal mereka ?

 

Di sampul belakang buku itu, ada sedikit info tentang penulis (Mbak Inna), lengkap dengan blog SAMSARA (samsaraindonesia@hotmail.com), tanpa pikir panjang aku langsung mencari blog itu, dan (mungkin memang sudah jalan Tuhan) aku menemukan di mana aku bisa menghubungi Mbak Inna. Dari situ segalanya dimulai. Aku bisa mengenal Tika (Sartika Nasmar), dan selalu mendapat dukungan dari dia, juga Mbak Inna. (Ada yang lupa, ”Makasi ya Mbak Inna, uda mo relain pulsanya buat nelfon aq kapan hari itu” ^O^)

 

Tentang mengapa aku berharap mengenal mereka, salah satu alasannya adalah karena aku ingin belajar bagaimana caranya menang melawan kehidupan yang memberiku 1000 alasan untuk menangis, sehingga aku bisa memberinya berjuta alasan untuk tersenyum (kata kata ini aku dapat di Facebook, ditulis oleh seorang teman yang ’maaf’ aku lupa namanya). Alasan yang lain, biar Bapa di Surga, Tuhan Yesus, Bunda Maria, aku, Mbak Inna, dan Tika yang tau. Karna apa yang kalian ketahui, sudah cukup ’porsinya’. ^_^

 n626988148_1703693_7991397

 

n1395984657_30330409_5910193

 

 

 

 

“Inna Hudaya”

 

 

                                                                                                      

                                                                                                  

                                                                                                       ”Sartika Nasmar”

 

Aniway, aku membagi ini semua kepada kalian, karna aku ingin kalian yang (mungkin) saat ini sedang terpuruk dan bersedih karena hal buruk yang kalian alami, atau beban hidup kalian terlalu berat, atau mungkin justru kalian mengalami hal yang sama, ”melakukan aborsi” (terutama para perempuan), tetap tegar dan tegak berdiri menantang kehidupan yang (sekali lagi mungkin – karena ini hanya asumsi ’seperti yang selalu dikatakan seorang teman yang begitu baik padaku’) akan lebih keji lagi jika kalian tidak segera membuat benteng pertahanan.

 

Satu hal lagi, aborsi bukan sesuatu hal yang sepele, yang setelah kalian melakukannya, kalian bisa segera melupakannya. Jadi (untuk yang belum pernah melakukannya) jangan pernah berharap merasakannya. (Aku yakin Mbak Inna setuju dengan kata kataku ini)

 

Dan buat kalian yang masih setia dengan ’free sex’ atau ’sex pra nikah’, aku sangat berharap kalian berhenti melakukannya (terutama para perempuan), karna tanpa kalian sadari, kalian hanya jadi obyek pemuas nafsu laki-laki. Jika sudah begitu, sadarilah bahwa kalian jauh lebih rendah dari ’ayam ayam’ atau bahasa kasarnya (maaf) ’pelacur’, karena aku yakin kalian tidak dibayar untuk melakukan itu.

 

Benar atau benar ?

 

Berhentilah sebelum kalian menyesal………………………………………………

Karna kalian tak akan tau apa yang akan terjadi nanti (yang entah kapan)…….

 

Jesus Bless You All  ^O^

 

By : AnNa (NaPeach Luph)

19
Mei
09

I Juz Want 2 Live………

~Zoerabadja, 19 Mei 2009~

aborsi

Ini cerita nyata…

Tentang seorang yang ”begitu dekat” denganku, bahkan mungkin terlalu dekat..

Maaf, aku tak bisa menyebutkan jati dirinya, karna ini menyangkut privasi dan prinsip hidup seorang ”Na..”

 

Tahun lalu, kira kira bulan Juli (tak terlalu ingat dengan tepat karna berpendapat bahwa sesuatu yang buruk tak perlu diingat), kenyataan manis sekaligus pahit harus dikecapnya. Sebut saja dia Diva. Setelah sekian lama (kurang lebih 1 bulan) dia tersiksa dengan sakit di perutnya, akhirnya seorang dokter (dokter ke-5 setelah sebelumnya berobat dari 1 dokter ke dokter yang lain – bahkan ke UGD –) memberitahukan padanya kalau dia ”HAMIL”, ternyata sakit yang teramat sangat yang belum pernah dia rasakan sebelumnya, itu karena ada ”Jabang Bayi” di rahimnya, tapi tidak semata mata itu saja, sebelum sakit itu datang, dia mengkonsumsi pil pelangsing dan pelancar haid (dia sadar beberapa bulan tidak mendapat ”tamu”, tapi dia tidak terlalu khawatir karna itu sudah biasa dialaminya). Kenyataan itu membuat Diva bahagia, sekaligus ketakutan (walau rasa bahagia itu lebih besar dari ketakutannya), bahagia karna dia merasa sempurna menjadi seorang wanita, tapi juga ketakutan karna ”Jabang Bayi” itu ada sebelum ada kata ”PERNIKAHAN”. Yang tidak bisa ia pahami bahkan mungkin sampai detik ini, Tuhan masih begitu menyayanginya walau dosa yang dia perbuat tak bisa dimaafkan, beberapa kali sebelumnya, setiap ke dokter, dia selalu diantar keluarganya. Tapi beberapa kali pula itu tak ada satupun dokter yang mengetahui kalau ternyata dia ”berisi”, aneh memang, sebanyak itu dokter (Bahkan Rumah Sakit) tidak ada yang mampu mengidentifikasi kehamilannya. Dan justru Saat ”berkunjung” ke dokter yang terakhir ini, justru dia diantar oleh kekasihnya.

 

Dokter itu memberikan dua pilihan, membiarkan ”Jabang Bayi” itu tumbuh dan pada akhirnya lahir ke dunia (dengan konsekuensi kehilangan pekerjaan, beban moral dan mempersiapkan diri ”kalau kalau” sampai diusir dari keluarga), atau ”membunuhnya” dengan cara aborsi. Di dalam ruangan 5 X 6 meter itu dia tertegun, lamaaaa sekali, sakit perut yang sebelumnya mampu menguras energinya untuk menahan sakit, kini hilang entah ke mana. Dia ingin sekali mempertahankan ”Jabang Bayi” itu, dia ingin melihat buah cintanya dengan kekasihnya itu, dia ingin melihatnya lahir dan tumbuh, dan memanggilnya ”Mama” atau ”Ibu” atau ”Bunda” atau apa sajalah itu namanya. Tapi di sisi lain, dia berfikir, bagaimana menghadapi keluarga, siapkah dia kehilangan pekerjaannya, dan bagaimana keadaan bayinya jika dia memaksa karena si ”Jabang Bayi” itu sudah terkontaminasi dengan zat kimia yang tak sedikit jumlahnya, setengah pak obat pelangsing, dan berbotol botol minuman pelancar haid, apakah akan normal normal saja, atau jadi cacat ??

 

Akhirnya dia memutuskan untuk melakukan ”Aborsi”, bukan hal yang mudah, selama beberapa hari dia tak bisa tidur dengan nyenyak (walau sakit itu sudah tak ia rasakan lagi), karna setiap malam ia selalu memimpikan hal yang sama, seorang anak kecil, laki laki, dengan wajah pucat memandang sendu ke arahnya, seolah berkata ”Mama, kenapa aku tak boleh menghirup udara pertamaku di dunia ?” (ini alasan dia selalu yakin anaknya laki laki). Dan Diva, tak bisa menjawabnya, dia hanya bisa menangis dan berkata dalam hati ”Maafkan mama, Nak. Mama terpaksa”

(aku sebenarnya tak setuju dengan kata katanya ini, bagiku ini hanya alasan, ini hanya karena dia tidak berani mempertanggungjawabkan apa yang sudah dia lakukan, dan lebih kejinya lagi dia mengorbankan anaknya yang sama sekali tak berdosa, si kecil itu harus menanggung akibat ke-”BEJAT”-an kedua orang tuanya)

 

Akhirnya, Sabtu sore itu (hanya ingat hari, tak ingat kapan dengan pasti), dia bersama kekasihnya kembali datang ke tempat praktek dokter itu, sebut saja dokter Louis, mereka sudah membuat janji sebelumnya, lengkap dengan pernyataan setuju dengan harga yang harus mereka bayar untuk melakukan ”pembunuhan” itu, tentu saja bukan harga yang murah.

Satu hal yang menurut Diva, sekali lagi Tuhan begitu mencintainya, semua itu terasa begitu mudah, dokter tak harus memasukkan tangannya ke dalam rahim melalui ”Mrs. V” untuk membunuh si ”Jabang Bayi” (seperti yang selama ini dia dengar dan dia baca) atau harus merasakan sakit yang begitu karna perutnya ”dipijit” dengan begitu keras seperti yang biasa dilakukan oleh dukun aborsi. Dokter itu cukup menyuntikkan beberapa mili ”cairan” yang (katanya) dari Jerman, di dua tempat di (maaf) ”pantat” nya. Setelah itu, dia diberi resep oleh dokter Louis untuk ditebus. Ada satu obat yang (sekali lagi, katanya) rasanya benar benar membuat kepala pusing (walau langsung ditelan dengan air, baunya tetap terkecap di lidah), satu hal lagi yang membuat dia semakin pusing, karena obat itu harus dimasukkan jauh ke dalam ”Mrs. V” – walau dengan tangannya sendiri dengan diberi sarung tangan yang diberi dokter – itu tetap sama sekali tak membuatnya nyaman.

 

Satu hari berlalu, reaksi obat itu terasa, perutnya memang tak terasa sakit, tapi lebih seperti ”eneg”, mual. Dia sudah tak kuat dengan rasa itu, tapi si ”Jabang Bayi” belum juga rela untuk meninggalkan rahim ibunya. Hari kedua, rasa yang sama, perasaan yang semakin takut dan tersiksa, kira kira bagaimana nanti rasanya, apakah akan begitu sakit seperti yang pernah dikatakan oleh kakaknya (kakaknya pernah keguguran, jadi harus di ”kiret”).

 

Malam hari, kira kira jam 12, sakit itu mulai datang, dia mulai tersiksa, berbagai posisi tidur tak membuatnya nyaman. Untungnya semua penghuni rumah sudah tertidur pulas, jadi tak ada yang menyadari keadaannya.

Jam 1, dia menelepon kekasihnya, minta ditemani dalam kesakitannya, dan dengan setia kekasihnya menemani dan memberikan semangat kalau dia pasti bisa melewati ini semua. Tentu saja diva menjadi naik pitam, dia berkata pada kekasihnya ”Semua gara gara kamu, aku jadi harus merasakan semua ini.” itu salah satunya, dan masih banyak sumpah serapah dan makian dia tujukan untuk kekasihnya karena sakit yang dia rasakan, dan karena perasaan bersalah karna sudah membunuh anaknya sendiri.

Jam 2, dia merasa kedinginan, kedinginan yang tak wajar, rasanya dingin itu sampai ke tulang tulangnya. Sudah 2 rangkap selimut dia pakai, tak juga bisa mengurangi rasa dingin itu, dia begitu tersiksa, sampai akhirnya menangis. Sang kekasih terus menghiburnya, terus menemaninya (walau hanya lewat telepon), tak pernah meninggalkannya. Tapi itu tak cukup, Diva berharap kekasihnya ikut merasakan, bahkan dia berpikir, seharusnya kekasihnya yang merasakan ini semua, bukan dia.

Jam 3, puncak sakitnya, dia sampai tak bisa menahannya, tapi ternyata hanya + 30 detik, selanjutnya dia merasa ada yang akan keluar dari perutnya. Segera dia beranjak ke kamar mandi, segumpal darah, keluar dari ”Mrs. V’, dia begitu ketakutan, tapi kemudian dia tersadar (karena lega juga ternyata anaknya belum berbentuk, jadi dia tak terlalu merasa bersalah – Diva dan kekasihnya memutuskan tidak melakukan USG, karena selain masalah dana, mereka tak ingin tau usia anak itu sekarang, mereka tak ingin semakin merasa bersalah setelah melihat anak mereka) dan segera memasukkan gumpalan itu ke dalam tempat yang sudah dia siapkan (terasa tak pantas karna anak itu hanya mendapat tempat bekas gel rambut punya adik sang ibu).

Jam setengah 5, rasa sakit itu kembali menyerang, Diva tak menyangka, karna dia berfikir sudah selesai semuanya, dadanya kembali berdebar kencang, apalagi yang akan dilihatnya. Ternyata segumpal darah (yang lebih besar dari sebelumnya, mungkin sebesar telapak tangan), dia masih lega karna masih tak ada bentuknya. Saat akan berdiri, dia begitu terkejut, ada yang tertinggal, ada yang mengganjal, tak terputus, menggantung di ”Mrs. V” nya, ternyata itulah ”Jabang Bayinya”, begitu kecil, mungil, tapi dia sudah berbentuk, sekali lagi ”SUDAH BERBENTUK”, lengkap dengan kepala, juga tangan dan kaki yang sudah sedikit terlihat, menangislah dia dalam ketakutannya. Bayi itu begitu tak berdaya, badannya begitu kecil (kalau menurut iklan, usia bayinya kira kira 3 bulan). Tentu kalian bisa membayangkan, 3 bulan, sudah pasti terlihat bentuknya. Diva begitu ingin memeluknya, melihatnya tumbuh semakin besar dalam rahimnya lalu terlahir ke dunia. Dia menyesal…………………………………………………..

 

Satu hal yang ingin aku katakan, pada Diva dan juga pada kalian semua yang membaca blog ini, jangan lagi dan jangan pernah melakukan kesalahan yang sama. Karna saat semua sudah terjadi, kalian tak akan pernah bisa mengulangnya lagi. Tentu kalian semua tau, penyesalan tak akan pernah ada gunanya.

Aku hargai keinginan dan perjuangan Diva untuk berubah, menjadi lebih baik, dan tetap mempertahankan hubungan dengan kekasihnya walau apapun yang terjadi (sekalipun itu berarti harus seringkali sakit hati, dan berseteru dengan keluarganya juga keluarga kekasihnya – yang sama sama tidak setuju dengan hubungan mereka).

Aku pun turut mendoakan, semoga mereka diberikan jalan terbaik atas usaha mereka yang sama sama sudah mau berubah dan tak ingin melakukan kesalahan yang sama (untuk ini, Diva harus merelakan ber’ember ember’ air matanya jatuh demi membuat kekasihnya mengerti sekaligus menahan ”nafsu” nya, bahkan sampai rela diputuskan karna tidak mau menuruti kekasihnya itu untuk ber’hubungan’, Puji Tuhan kekasihnya itu sudah menyadari segala kekeliruannya).

Diva begitu mencintai anak yang sudah dia ”bunuh”, dan kini dia sedang bermimpi Tuhan akan memberi anugerah itu lagi, nanti saat dia sudah menikah dengan kekasihnya itu. Mereka sedang mempersiapkan diri dan hati, baik materi maupun moral, untuk pernikahan mereka. Semoga orang tua kedua belah pihak pada akhirnya mau mengerti dan merestui. Karena aku pun yakin ”kekuatan cinta” akan mengalahkan segalanya.

ibu menyusui

 By : AnNa (NaPeach Luph)

25
Apr
09

B!$!k@N H@+!

tears

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Langit gelap malam ini

Semakin gelap karena mendung menyelimuti

Dingin yang menusuk tak lagi terasa di tubuhku

Karna hatiku lebih dingin dari yang ku tau

 

Banyak yang tak bisa kumengerti

Bahkan perasaanku sendiri

Kecintaan dan kerinduan yang belum pernah kurasakan

Karenanya tak bisa kuberi nama

 

Hanya tau kau ada..

Mengisi setiap relung di dalamnya

 

 

24
Apr
09

b@H@$@ c!n+@

 

1_745727506m1Pada matamu senja menjelaga

Tersimpan kejujuran dan ketulusan di sana

 

Ada yang tak terucap,

Tapi terasa….

 

Seperti mimpi,

Namun di malam hari Itu semua mungkin

Melayang bagai kapas

Hingga sang fajar menurunkannya

 

Senja melihat

Gerimis yang jatuh pada pijakan-pijakan kaki

 

Dengan pena kuungkap semua

Mencari pukau kata-kata, temukan bahasa

Tuk bicarakan apa yang ada padamu


Tidak dihayati kata demi kata
Tapi satu keindahan dalam keutuhan

 

bY :

_AnN3 (COEPEACH)_

           d3z+ 2008

 

d3d!c@+3d tO : P. P.

24
Apr
09

$aH@b@+

s1161972340_30175766_6886729

 

Genggamlah tangan temanmu selama

 

Waktu-waktu sulit

 

Biarkan ia menemukan cinta

 

Melalui pelukan dan senyuman

 

Tapi juga tahu saat tiba waktunya untuk merelakan

 

“Karena kita semua harus belajar untuk tumbuh”

 

 

By : ~ d3dY $@nJ@Y@ ~




Kategori

 

Februari 2010
S S R K J S M
« Jun    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728

Blog Stats

  • 741 hits

Klik tertinggi

  • Tidak ada