~Zoerabadja, 19 Mei 2009~

Ini cerita nyata…
Tentang seorang yang ”begitu dekat” denganku, bahkan mungkin terlalu dekat..
Maaf, aku tak bisa menyebutkan jati dirinya, karna ini menyangkut privasi dan prinsip hidup seorang ”Na..”
Tahun lalu, kira kira bulan Juli (tak terlalu ingat dengan tepat karna berpendapat bahwa sesuatu yang buruk tak perlu diingat), kenyataan manis sekaligus pahit harus dikecapnya. Sebut saja dia Diva. Setelah sekian lama (kurang lebih 1 bulan) dia tersiksa dengan sakit di perutnya, akhirnya seorang dokter (dokter ke-5 setelah sebelumnya berobat dari 1 dokter ke dokter yang lain – bahkan ke UGD –) memberitahukan padanya kalau dia ”HAMIL”, ternyata sakit yang teramat sangat yang belum pernah dia rasakan sebelumnya, itu karena ada ”Jabang Bayi” di rahimnya, tapi tidak semata mata itu saja, sebelum sakit itu datang, dia mengkonsumsi pil pelangsing dan pelancar haid (dia sadar beberapa bulan tidak mendapat ”tamu”, tapi dia tidak terlalu khawatir karna itu sudah biasa dialaminya). Kenyataan itu membuat Diva bahagia, sekaligus ketakutan (walau rasa bahagia itu lebih besar dari ketakutannya), bahagia karna dia merasa sempurna menjadi seorang wanita, tapi juga ketakutan karna ”Jabang Bayi” itu ada sebelum ada kata ”PERNIKAHAN”. Yang tidak bisa ia pahami bahkan mungkin sampai detik ini, Tuhan masih begitu menyayanginya walau dosa yang dia perbuat tak bisa dimaafkan, beberapa kali sebelumnya, setiap ke dokter, dia selalu diantar keluarganya. Tapi beberapa kali pula itu tak ada satupun dokter yang mengetahui kalau ternyata dia ”berisi”, aneh memang, sebanyak itu dokter (Bahkan Rumah Sakit) tidak ada yang mampu mengidentifikasi kehamilannya. Dan justru Saat ”berkunjung” ke dokter yang terakhir ini, justru dia diantar oleh kekasihnya.
Dokter itu memberikan dua pilihan, membiarkan ”Jabang Bayi” itu tumbuh dan pada akhirnya lahir ke dunia (dengan konsekuensi kehilangan pekerjaan, beban moral dan mempersiapkan diri ”kalau kalau” sampai diusir dari keluarga), atau ”membunuhnya” dengan cara aborsi. Di dalam ruangan 5 X 6 meter itu dia tertegun, lamaaaa sekali, sakit perut yang sebelumnya mampu menguras energinya untuk menahan sakit, kini hilang entah ke mana. Dia ingin sekali mempertahankan ”Jabang Bayi” itu, dia ingin melihat buah cintanya dengan kekasihnya itu, dia ingin melihatnya lahir dan tumbuh, dan memanggilnya ”Mama” atau ”Ibu” atau ”Bunda” atau apa sajalah itu namanya. Tapi di sisi lain, dia berfikir, bagaimana menghadapi keluarga, siapkah dia kehilangan pekerjaannya, dan bagaimana keadaan bayinya jika dia memaksa karena si ”Jabang Bayi” itu sudah terkontaminasi dengan zat kimia yang tak sedikit jumlahnya, setengah pak obat pelangsing, dan berbotol botol minuman pelancar haid, apakah akan normal normal saja, atau jadi cacat ??
Akhirnya dia memutuskan untuk melakukan ”Aborsi”, bukan hal yang mudah, selama beberapa hari dia tak bisa tidur dengan nyenyak (walau sakit itu sudah tak ia rasakan lagi), karna setiap malam ia selalu memimpikan hal yang sama, seorang anak kecil, laki laki, dengan wajah pucat memandang sendu ke arahnya, seolah berkata ”Mama, kenapa aku tak boleh menghirup udara pertamaku di dunia ?” (ini alasan dia selalu yakin anaknya laki laki). Dan Diva, tak bisa menjawabnya, dia hanya bisa menangis dan berkata dalam hati ”Maafkan mama, Nak. Mama terpaksa”
(aku sebenarnya tak setuju dengan kata katanya ini, bagiku ini hanya alasan, ini hanya karena dia tidak berani mempertanggungjawabkan apa yang sudah dia lakukan, dan lebih kejinya lagi dia mengorbankan anaknya yang sama sekali tak berdosa, si kecil itu harus menanggung akibat ke-”BEJAT”-an kedua orang tuanya)
Akhirnya, Sabtu sore itu (hanya ingat hari, tak ingat kapan dengan pasti), dia bersama kekasihnya kembali datang ke tempat praktek dokter itu, sebut saja dokter Louis, mereka sudah membuat janji sebelumnya, lengkap dengan pernyataan setuju dengan harga yang harus mereka bayar untuk melakukan ”pembunuhan” itu, tentu saja bukan harga yang murah.
Satu hal yang menurut Diva, sekali lagi Tuhan begitu mencintainya, semua itu terasa begitu mudah, dokter tak harus memasukkan tangannya ke dalam rahim melalui ”Mrs. V” untuk membunuh si ”Jabang Bayi” (seperti yang selama ini dia dengar dan dia baca) atau harus merasakan sakit yang begitu karna perutnya ”dipijit” dengan begitu keras seperti yang biasa dilakukan oleh dukun aborsi. Dokter itu cukup menyuntikkan beberapa mili ”cairan” yang (katanya) dari Jerman, di dua tempat di (maaf) ”pantat” nya. Setelah itu, dia diberi resep oleh dokter Louis untuk ditebus. Ada satu obat yang (sekali lagi, katanya) rasanya benar benar membuat kepala pusing (walau langsung ditelan dengan air, baunya tetap terkecap di lidah), satu hal lagi yang membuat dia semakin pusing, karena obat itu harus dimasukkan jauh ke dalam ”Mrs. V” – walau dengan tangannya sendiri dengan diberi sarung tangan yang diberi dokter – itu tetap sama sekali tak membuatnya nyaman.
Satu hari berlalu, reaksi obat itu terasa, perutnya memang tak terasa sakit, tapi lebih seperti ”eneg”, mual. Dia sudah tak kuat dengan rasa itu, tapi si ”Jabang Bayi” belum juga rela untuk meninggalkan rahim ibunya. Hari kedua, rasa yang sama, perasaan yang semakin takut dan tersiksa, kira kira bagaimana nanti rasanya, apakah akan begitu sakit seperti yang pernah dikatakan oleh kakaknya (kakaknya pernah keguguran, jadi harus di ”kiret”).
Malam hari, kira kira jam 12, sakit itu mulai datang, dia mulai tersiksa, berbagai posisi tidur tak membuatnya nyaman. Untungnya semua penghuni rumah sudah tertidur pulas, jadi tak ada yang menyadari keadaannya.
Jam 1, dia menelepon kekasihnya, minta ditemani dalam kesakitannya, dan dengan setia kekasihnya menemani dan memberikan semangat kalau dia pasti bisa melewati ini semua. Tentu saja diva menjadi naik pitam, dia berkata pada kekasihnya ”Semua gara gara kamu, aku jadi harus merasakan semua ini.” itu salah satunya, dan masih banyak sumpah serapah dan makian dia tujukan untuk kekasihnya karena sakit yang dia rasakan, dan karena perasaan bersalah karna sudah membunuh anaknya sendiri.
Jam 2, dia merasa kedinginan, kedinginan yang tak wajar, rasanya dingin itu sampai ke tulang tulangnya. Sudah 2 rangkap selimut dia pakai, tak juga bisa mengurangi rasa dingin itu, dia begitu tersiksa, sampai akhirnya menangis. Sang kekasih terus menghiburnya, terus menemaninya (walau hanya lewat telepon), tak pernah meninggalkannya. Tapi itu tak cukup, Diva berharap kekasihnya ikut merasakan, bahkan dia berpikir, seharusnya kekasihnya yang merasakan ini semua, bukan dia.
Jam 3, puncak sakitnya, dia sampai tak bisa menahannya, tapi ternyata hanya + 30 detik, selanjutnya dia merasa ada yang akan keluar dari perutnya. Segera dia beranjak ke kamar mandi, segumpal darah, keluar dari ”Mrs. V’, dia begitu ketakutan, tapi kemudian dia tersadar (karena lega juga ternyata anaknya belum berbentuk, jadi dia tak terlalu merasa bersalah – Diva dan kekasihnya memutuskan tidak melakukan USG, karena selain masalah dana, mereka tak ingin tau usia anak itu sekarang, mereka tak ingin semakin merasa bersalah setelah melihat anak mereka) dan segera memasukkan gumpalan itu ke dalam tempat yang sudah dia siapkan (terasa tak pantas karna anak itu hanya mendapat tempat bekas gel rambut punya adik sang ibu).
Jam setengah 5, rasa sakit itu kembali menyerang, Diva tak menyangka, karna dia berfikir sudah selesai semuanya, dadanya kembali berdebar kencang, apalagi yang akan dilihatnya. Ternyata segumpal darah (yang lebih besar dari sebelumnya, mungkin sebesar telapak tangan), dia masih lega karna masih tak ada bentuknya. Saat akan berdiri, dia begitu terkejut, ada yang tertinggal, ada yang mengganjal, tak terputus, menggantung di ”Mrs. V” nya, ternyata itulah ”Jabang Bayinya”, begitu kecil, mungil, tapi dia sudah berbentuk, sekali lagi ”SUDAH BERBENTUK”, lengkap dengan kepala, juga tangan dan kaki yang sudah sedikit terlihat, menangislah dia dalam ketakutannya. Bayi itu begitu tak berdaya, badannya begitu kecil (kalau menurut iklan, usia bayinya kira kira 3 bulan). Tentu kalian bisa membayangkan, 3 bulan, sudah pasti terlihat bentuknya. Diva begitu ingin memeluknya, melihatnya tumbuh semakin besar dalam rahimnya lalu terlahir ke dunia. Dia menyesal…………………………………………………..
Satu hal yang ingin aku katakan, pada Diva dan juga pada kalian semua yang membaca blog ini, jangan lagi dan jangan pernah melakukan kesalahan yang sama. Karna saat semua sudah terjadi, kalian tak akan pernah bisa mengulangnya lagi. Tentu kalian semua tau, penyesalan tak akan pernah ada gunanya.
Aku hargai keinginan dan perjuangan Diva untuk berubah, menjadi lebih baik, dan tetap mempertahankan hubungan dengan kekasihnya walau apapun yang terjadi (sekalipun itu berarti harus seringkali sakit hati, dan berseteru dengan keluarganya juga keluarga kekasihnya – yang sama sama tidak setuju dengan hubungan mereka).
Aku pun turut mendoakan, semoga mereka diberikan jalan terbaik atas usaha mereka yang sama sama sudah mau berubah dan tak ingin melakukan kesalahan yang sama (untuk ini, Diva harus merelakan ber’ember ember’ air matanya jatuh demi membuat kekasihnya mengerti sekaligus menahan ”nafsu” nya, bahkan sampai rela diputuskan karna tidak mau menuruti kekasihnya itu untuk ber’hubungan’, Puji Tuhan kekasihnya itu sudah menyadari segala kekeliruannya).
Diva begitu mencintai anak yang sudah dia ”bunuh”, dan kini dia sedang bermimpi Tuhan akan memberi anugerah itu lagi, nanti saat dia sudah menikah dengan kekasihnya itu. Mereka sedang mempersiapkan diri dan hati, baik materi maupun moral, untuk pernikahan mereka. Semoga orang tua kedua belah pihak pada akhirnya mau mengerti dan merestui. Karena aku pun yakin ”kekuatan cinta” akan mengalahkan segalanya.

By : AnNa (NaPeach Luph)
Komentar Terakhir