Pagi tadi ada yang seseorang berkata padaku :

”Perempuan kalo disakitin bisa berubah jadi kejam ya, Na ?”

Aku menjawabnya dengan senyuman (lebih karena aku tidak tau maksud kata katanya itu). Tapi kemudian aku pun mengiyakan : ”Iyah, makanya jangan macem macem sama perempuan” Jawaban itu disambut gelak tawa teman temanku yang lain yang secara kebetulan mendengarnya (sebenarnya aku sama sekali tak mengerti mengapa mereka tertawa dengan jawabanku).

Tak lama cerita pun bergulir dari mulut seseorang itu, tentang seorang ibu yang pagi itu datang ke kantor (tapi aku tak tau) demi berkelakar tentang masalah dalam keluarganya setelah hari sebelumnya suaminya datang dan menangis nangis bercerita tentang dia yang tak diijinkan bertemu dengan anaknya (anaknya sendiri pun tak mau bertemu dengannya karena pengaruh dari ibunya). Aku sama sekali tak mengerti mengapa mereka berdua membiarkan masalah pribadi mereka dikonsumsi publik. Mengapa mereka tidak merasa malu saling membongkar kekurangan masing masing. Apa mereka sudah melupakan ikrar pada saat perkawinan mereka ? Bukannya aib seorang suami, itu berarti aib istrinya, dan begitu juga sebaliknya (bahkan aku yang belum pernah menikah saja bisa mengerti, tapi mengapa mereka tidak ?)

Menurut seseorang yang mengerti benar cerita itu (entah darimana dia tau), sang suami ternyata yang memulai perseteruan itu. Tak hanya sekali dua kali istrinya memergoki dia sedang bersama wanita lain, bahkan membawanya ke rumah mereka (maaf aku harus mengatakan, ini salah satu kebejatan moral masyarakat kita, tak hanya lelaki, para wanita pun sekarang banyak yang tak bisa menghargai dirinya sendiri –aku mengatakan ini bukan karena aku merasa aku paling baik, paling sempurna, tak ada cacat atau tak punya dosa, tolong diingat-, lalu siapa yang harus disalahkan atas keadaan seperti ini ? Para orang tua, lingkungan, diri sendiri, atau justru Tuhan ? aku tak setuju dengan pilihan terakhir ini, ada baiknya tidak membawa nama Tuhan untuk menutupi kenyataan bahwa sekarang Neraka sudah pindah ke dunia).

Bukan aku mau membela sang istri karena sama sama perempuan, kita memang tidak bisa menilai hanya dari satu sisi saja. Segala akibat pasti ada sebabnya. Mana tau, mungkin sang istri pernah melakukan kesalahan yang membuat sang suami berpaling kepada perempuan perempuan lain (lebih dari satu), mungkin sang suami hanya mencari pelampiasan. Tapi aku juga tidak akan menyetujui tindakan sang suami yang tak bermoral itu (kita memang tak pernah tau apa yang dilakukannya bersama perempuan perempuan itu, aku hanya memikirkan kemungkinan terburuk –seperti yang selalu diajarkan oleh mamaku-, ML misalnya), karena menurutku (sekarang -baru sekarang aku bisa berfikir sedewasa ini-) segala permasalahan pasti ada jalan keluarnya, tak seharusnya dia melakukan itu semua, dan menjadikan semuanya bertambah buruk, dan sekarang di ambang kehancuran.

B4xkP0UbgY

Tapi sudahlah, toh itu bukan urusanku, masalahku sendiri sudah terlalu menguras pikiran, tak ada tempat lagi di otakku untuk memikirkan masalah orang lain. Haha….. Huft………..

Soal kenapa aku mengiyakan pernyataan seseorang itu, lebih karena aku sendiri pernah mengalaminya. Aku memang mengatakan bahwa aku memaafkan saat aku disakiti, tapi bukan berarti aku melupakannya (saat menulis ini aku jadi sadar, seseorang pernah mengatakan seperti ini padaku saat aku melakukan kesalahan dan membuatnya marah, sekarang aku membenarkannya). Dan setelahnya aku justru melakukan hal yang beribu kali lebih menyakitkan hatinya dari yang pernah dia lakukan padaku.

Kalian boleh bilang aku tak berperasaan, pendendam, atau apapun. Aku sendiripun menyadari bahwa aku salah. Tapi terkadang emosi justru mengalahkan logika. Dan aku sama sekali tak merasa bersalah telah melakukannya.

marah1

Sekarang, terserah kalian, apa pendapat kalian tentang pernyataan itu :

”Perempuan bisa berubah menjadi kejam (lebih dari yang kalian tau –terutama para lelaki-) jika disakiti”