“Keberanian yang muncul dari dalam jiwa”

Itu arti dari sebuah nama… Yang selalu dipakai seseorang di semua perambah yang dia miliki.

Apa hubungannya dengan tulisan yang akan aku bagikan ke kalian hari ini ?

Yang pertama adalah karena memang itu yang mendorongku untuk mengungkapkan perasaanku di blog ini, kepada kalian.

Yang kedua, karna seseorang itulah yang membuat hari hariku kembali berwarna.

Sebenarnya aku sudah lama mengenalnya, lebih tepatnya hanya tau dari persepsi persepsi orang lain yang tau tentang dia (mungkin juga berdasarkan persepsi persepsinya sendiri).

Persepsi beradu dengan persepsi.. Fiuft…

Dari 8 tahun yang lalu aku tak pernah punya keinginan untuk mengenalnya secara langsung, bukan tanpa alasan, tentu aku punya alasan untuk itu.

Seorang sahabat, yang begitu aq sayang (walau aku tau, aku tak pernah jadi sahabat yang baik untuknya), memujanya. Itu satu-satunya alasan dan buatku itu cukup kuat untuk aku tetap berpendirian teguh tidak akan pernah berusaha mengenalnya sekalipun dengan tujuan jadi ”mak comblang” untuk mereka berdua.

Hal itu terus berlanjut sampai kira kira sebulan lebih yang lalu. Aku cukup mengenalnya lewat cerita dari sahabatku. Dia yang begini, dia yang begitu. Semuanya aku tau….

Dan hari itu……

Seperti hari hari sebelumnya, aku berkutat dengan jaringan di mana aq bisa menghibur diri, di mana aq bisa bertemu dengan teman temanQ walau hanya di dunia maya. Dan aku menemukan dia.

Tanpa perasaan apa apa aku meng-klik pilihan untuk memintanya menjadi temanku, dan itu aku lakukan tanpa alasan. Itu memang salah satu kebiasaan burukku, hanya agar daftar temanku bertambah. Sesudahnya, aku melupakannya. Aku lupa aku sudah mengirim request padanya, aku tak tau (tak peduli) apa dia sudah menerimanya. Aku hanya peduli pada mereka yang mengirimkan sesuatu di halamanku (hanya itu yang menjadi pusat perhatianku).

Tapi malam itu (aku ingat sekali saat itu aku sedang bersama seseorang dan sepupunya, makan nasi goreng di jalan on de moghen) ada pesan masuk di ponselku, dan yang tidak aku sangka, ternyata itu ”dia” (sepertinya sudah mulai terlalu banyak dia, jadi kita sebut saja laki laki itu ”Wee”). Awalnya aku ragu ragu untuk membalasnya. Tapi entah mengapa aku reply juga pesannya.

Ada satu hal lagi yang belum aku ceritakan, beberapa hari sebelumnya, seorang sahabat yang lain (sebut saja dia ”Tha”) bercerita dan meminta pendapat padaku tentang perasaannya. Tha bilang padaku dia sedang menyukai seseorang. Aku pun mendukungnya.

Dan malam itu aku menyadari sesuatu ( setelah beberapa kali berinteraksi dengan Wee) bahwa seseorang yang selalu diceritakan oleh Tha adalah Wee.

Oh, Geezz, semuanya membuatku terkejut.

menantifajar

Sejak itu aku semakin berfikir keras, apa aku harus melanjutkan ”hubungan” pertemananku dengan Wee. Selama itu pula aku memilih untuk tidak terlalu sering berinteraksi dengannya (dengan harapan pada akhirnya kami akan sama sama bosan dengan keadaan itu dan meninggalkan hubungan ini). Tapi entah bagaimana, aku justru semakin terikat padanya. Dan semakin lama, justru dia semakin mempesonaku (aku memang belum pernah bertemu dengannya, tapi dia bisa membuatku terpesona. Aneh, dan tak bisa diterima oleh logika.. Ya, aku mengakuinya. Tapi aku yakin kalian tak akan mengatakannya jika sudah mengenalnya)

Dia sederhana, tegas, dan cerdas (poin terakhir yang paling penting).

Aku tak bisa memungkiri, kalau aku mulai menyukainya  (kini aku tau mengapa kedua sahabatku memujanya).

Tapi saat aku mulai menyadari itu, sahabatku yang pernah begitu memujanya (mungkin sampai saat ini – aku tak tau, karna kami sudah terpisah oleh jarak dan waktu) menceritakan banyak hal padaku (dan yang paling banyak menguras perhatian sekaligus otakku adalah cerita dia tentang Wee).

Itu membuatku merasa begitu bersalah,

Aku tak pernah bisa jadi sahabat yang baik untuknya, tak pernah ada saat dia membutuhkanku, aku hanya peduli pada diriku sendiri.

Dan sekarang, aku membohonginya. Saat ini aku menyukai orang yang selama ini membuat malamnya tak tenang, membuatnya bahagia karna cinta yang dia rasakan sekaligus menangis karna cintanya bertepuk sebelah tangan (aku bisa merasakannya karna akupun pernah mengalami hal yang sama, hanya bisa mencintai seseorang tanpa bisa mendapatkan cintanya, pahit memang).

Akhirnya aku menangis, aku merasa begitu bersalah. Aku begitu marah pada diriku sendiri, AKU, tega menyakiti hati sahabatku walau dia tak menyadarinya.

Sejak saat itu aku memutuskan untuk tidak menggubris Wee lagi. Aku memutuskan untuk meletakkan perasaanku ini padanya (toh aku belum terlanjur jatuh cinta).

Hari demi hari berlalu, Wee tak pernah berhenti mencariku. Sekalipun aku tak pernah menanggapi pencariannya itu. Aku tak bisa menyakiti sahabatku, aku tak mau. Ini bukan hanya masalahku dengan seorang sahabat, tapi 2 orang sahabat. Aku tak mau kehilangan mereka.

Hari ke-6, Wee tak berubah. Dia tetap melakukannya. Dia tetap mencariku.

Oh, Geez, apa yang harus aku lakukan sekarang ? Semakin aku berusaha melepaskan, semakin aku terikat. Tak jarang aku merasa begitu ingin menghubunginya, begitu ingin bercerita tentang banyak hal lagi seperti sebelumnya. Huft……………..

Sampai akhirnya, di hari ke-7 (26 Mei 2009), sekali lagi Wee menghubungiku. Dan entah mengapa, hari itu aku menerimanya dan aku membiarkan diriku terbawa perasaan yang kuhindari sebelumnya.

Apa aku salah ?

Aku tak bisa menahan perasaanku. Aku tak bisa membohongi diriku, bahwa aku menyukainya. Dan aku rasa semakin lama perasaan itu semakin tumbuh subur di hatiku dan menjadi sempurna. Aku menyayanginya.

Aku tak pernah mengatakan yang sejujurnya saat Wee bertanya apa yang terjadi padaku. Aku hanya katakan : aku diam karna aku ingin dapat jawaban.

Hhh………………

Bahkan setelah semua ini aku hanya bisa berkata ”Maafkan aku…” (itupun tidak secara langsung) pada kedua sahabatku.

Aku tak pernah bermaksud seperti itu, dan ini sama sekali bukan mauku.

Kadang aku bingung, haruskah aku menyesal ?

Satu sisi hatiku menyesal, mengapa waktu itu aku bertemu dengannya, mengapa waktu itu aku memintanya untuk menjadi temanku di dunia maya.

Tapi di sisi lain, aku tak ingin kehilangan ini semua, aku tak ingin kehilangan dia.

Buatku, dia begitu istimewa.

Kalau kebanyakan laki laki selama ini selalu menuruti keinginanku, menuruti kemanjaanku hanya untuk mendapatkan perhatian dan cintaku, dia tak seperti itu. Dia justru mengatakan, dia tak suka. Bukan berarti dalam waktu singkat aku harus berubah, dia pun mau memanjakanku, tapi tidak setiap waktu.

Saat aku melakukan kesalahan, dia menunjukkan kesalahanku, dan mengajariku melakukan yang seharusnya aku lakukan.

Saat aku menceritakan masalahku, dia selalu mendengarkanku, dan memberiku solusi untuk menyelesaikannya.

Dia selalu tau, kapan saat yang tepat untuk memanjakanku, kapan saat yang tepat untuk membuat pipiku memerah karna kata-katanya, kapan saatnya bersikap tegas padaku.

Dia selalu membimbingku, dia bisa mengendalikanku (selama ini bahkan orang tuaku pun tak bisa), dia membuatku sadar bahwa semua hal buruk dalam diri dan hidupku harus segera kurubah.

Sekali lagi aku harus bertanya :

Apa aku salah ?

Aku menyayanginya, aku berharap bisa terus bersamanya, dan aku berharap menjalani hidupku dengannya.

Apa aku gila ?

Aku berharap Tuhan memang menciptakan dia untukku, begitu juga sebaliknya.

Tolong berikan aku jawaban… Segera…………