17:21

Waktu yang ditunjukkan oleh layer ponselku..
Dengan serampangan kuraih lembaran kertas putih dan pensil dan benda kecil putih berlabel ’Rasoplast’, karena takut kehilangan sesuatu dalam benakku yang oleh semua orang dipanggil ‘IDE’.
Sebenarnya aku lebih menyukai boxi biruku untuk menodai putihnya lembaran itu bersama si ‘IDE’, tapi entah di mana ia sedang berada kini, sepertinya satu waktu aku melupakan kebiasaannya tergeletak di meja kecilku.
Sudahlah, lupakan tentang si biru, toh dengan batangan kecil abu-abu inipun si ‘IDE’ tak akan berubah makna.


Dan petang ini, hawa dingin menusuk tulang-tulangku. Awan hujan yang dibawa angin sepanjang pagi, parkir di langit tepat di atasku, memaksaku berbasah kuyup dan menggigil sepanjang jalan menuju rumah, persinggahanku.

Tetapi kali ini aku tak ingin bersungut-sungut, sekalipun aku lupa membawa sepatu karet yang berarti aku harus merelakan sepatu kesayanganku terkikis dan berkurang lagi usianya karena berintim-intim dengan air hujan dan genangannya.

Hujan kali ini begitu indah, tak lagi sendu karena masa lalu yang menyesakkan dadaku dengan serangan tiba-tiba layaknya penyakit jantung.

Hujan hanya tinggal hujan, tak ada lagi desiran-desiran yang sanggup buatku lemas ketakutan karena kebahagiaan dan kesedihan kurasakan dalam waktu bersamaan dan sama-sama dahsyatnya,
“Aku bisa mati” itu pikirku, selalu, setiap kali rasa itu muncul.
Hatiku tak akan sanggup mengatasi desakan yang terjadi, dan jantungku tak akan mampu mengimbangi detakan dengan ritme yang begitu cepat, yang kecepatannya bahkan melampaui kecepatan cahaya.
–haha, kemungkinan absurd-

Dan dingin yang menusuk tulang ini semata-mata karena udara yang hujan bawa, bukan lagi karena jantungku yang berdetak cepat dan keras, menghentak-hentak di dalam dadaku. Atau, mungkin juga karena ternyata kipas angin itu menyala pada kecepatan tertinggi dan aku memakai baju yang tak bisa disebut baju.

Syukurlah..

Hujan t’lah jadi indah, lagi, kembali, untukku..