Menulis memang menyenangkan (walau tingkat kesulitannya diatas rata-rata)..
Dan bisa membaginya kepada banyak orang, itulah yang paling menyenangkan..
Tapi apa memang itu yang aku pikirkan ?
Apa bukan hanya karena ingin tetap eksis di dunia maya dengan tulisan-tulisan gag jelas yang selalu aku posting tanpa tujuan ? Tak peduli apa nantinya akan dibaca orang, tak peduli akan dapat komentar baik langsung ato engga, dan blablabla..
Mungkin blog hanya jadi salah satu media untuk ‘mencurahkan’ kenarsisanku selain kamera dan properti lainnya..
Hahahaha, LOL..
Heran ya (entah kenapa kata ‘heran’ tak juga mau pergi dari mulutku walau sudah berulang kali ‘dia’ menegurku karena aku mengucapkan kata itu.. Dia selalu katakan : Dadi wong Jowo kuwi ojo gumunan (Jadi orang Jawa itu jangan suka heran), nasehat itu sendiri dia dapatkan dari neneknya, karena itu dia jadikan prinsip hidupnya (yang tak juga bisa kuterapkan dalam hidupku walau keras mencoba, karena masih belum mengerti benar maksudnya. Hehehe)), di saat Indonesia sedang geger dari soal Century sampai sekarang ganti soal Gayus dan blablabla, aku malah meributkan soal kehidupanku sendiri.
Kalau diberi kesempatan untuk membela diri, aku pasti akan bilang “Malez ngurusin begituan, gag ada pengaruhnya sama aku”
Yaa, jawaban seperti itu pula yang aku berikan pada ibuku saat dia menegurku :
Kamu sekarang gag pernah liat tivi, gag pernah tau perkembangan berita. Kerjaannya baca buku tok di kamar. Bukan baca koran, malah baca novel sastra. Jadi terbelakang kamu nanti. Coba, tau ta kamu gegeran soal pajek tu ?
Kejam yaa kata-katanya ?? Menusuk ke jantung.. Hehehe..
Tapi dengan santai aku menjawab seperti tadi, dengan ditambahi :
Tau lah mah, itu se, yang soal Gayus, PNS Golongan IIIA yang sekarang jadi milyader ?? Aku emang gag pernah nonton tivi, dan gag pernah peduli, tapi bukan berarti aku gag tau. Lagipula malez rebutan channel sama papah, gag pernah menang, nonton tivi sama papah tu gag enak. Mending baca buku, jangan salah mah, novel sastra tu juga kaya pengetahuan, yang dibicarain juga segala aspek kehidupan walo dengan cara yang berbeda, malah gag akan termakan jaman walau novel itu terbitan jaman bahula (kata ciptaanku sendiri untuk menyebut jaman purbakala).
Dengan panjang lebar dan meyakinkan (baca : sok tau) aku menjelaskan pada ibuku. Beliau hanya mengernyitkan kening mendengarnya. Biarlah, toh beliau tak akan mengerti..
Ngurusin ketidakadilan di Indonesia ini gag akan ada habisnya..
Seperti pepatah yang ngetren di jaman perang kemerdekaan dulu MATI SATU TUMBUH SERIBU. Itu salah satu alasan bodohku yang paling kuat untuk tidak menggubris apa-apa yang terjadi antara Gayus, Susno dan institusi POLRI, termasuk KPK. Toh dengan ngurusin, gag akan membawa perubahan apa-apa (lebih tepatnya gag bisa ngerubah apa-apa kalau kita yang ngurusin), bukankah lebih baik kita masing-masing mengubah attitude diri kita sendiri ?
Pernah denger quote “If You don’t like something, change it. If You can’t change it, change Your attitude. Don’t Complain” (aku lupa baca ini di mana, yang jelas aku inget persis kalimatnya)
Jika kau tidak menyukai sesuatu, rubahlah. Jika kau tak dapat merubahnya rubah kelakuanmu sendiri. Jangan mengeluh/protes.
Nah, benerrr kan ???
Kalo semua orang di Indonesia, terutama para penggede-penggede dan orang-orang yang lagi berseteru itu punya self awareness, punya kesadaran diri, masalah-masalah itu bakal terselesaikan sendiri satu per satu kok. Setuju gag ??
Jadi, selama gag ada yang bisa nyadarin mereka soal ini, ya keadaan gag akan berubah. Daripada ngurusin mereka mending kita ngurusin orang-orang yang gag punya apa-apa tuh, yang miskin, yang terlantar. Gag usah semuanya, karna kita pasti gag mampu. Yang keliatan aja, yang kira-kira bisa kita bantu dan kita mampu.
Kembali soal kebiasaanku yang baru, Memang, akhir-akhir ini aku lebih memilih ‘mengasingkan’ diri dalam kamarku (satu-satunya tempat paling nyaman dalam rumah, setidaknya itu menurutku) daripada nonton tivi atau sekedar ngobrol dengan keluarga seperti biasanya, di sana aku bisa melakukan apa saja, membaca buku (dari novel sastra sampe komik) atau iseng-iseng, corat-coret tak berhadiah tentang apa saja di buku besarku.
Kalo mo ngobrol di kamarku aja.
Selalu itu yang aku katakan kalau ibu menyuruhku keluar kamar. Dan saat ia sudah ‘gerah’ dengan kebiasaan baruku, biasanya dia akan marah dan berkata :
Orang kok ngurung diri di kamar teruz, apa ya gag bosen ?? Kalo otaknya gag dipake buat hal yang lebih berguna tar jadi dodol kamu.
Dan selalu juga, aku punya jawaban untuk itu (lebih tepatnya protes) :
Mending mana aku diem di kamar, baca buku, nulis-nulis, blablabla atau aku keluar rumah, cari kerja part time kaya dulu, maen sama temen-temen, blablabla ?
Kalau sudah begitu ibuku akan diam lalu meninggalkanku. Kemenangan telak buatku.
Yah, aku rasa itu satu-satunya cara aku mengisi waktu luangku (yang benar-benar luang) tanpa rasa bosan. Beberapa waktu sebelumnya, aku selalu marah karena ‘kebebasan’ ku dibatasi sekarang, dengan alasan TIDAK BISA DIPERCAYA (aku tak memungkiri ini juga karena kesalahanku sendiri, tapi seharusnya bisa diterima kan kalau seseorang itu bisa berubah ? Huft, sudahlah, percuma membela diri).
Begitulah, dengan menjelajahi dunia maya (kecuali yang bisa membuatku terhubung dengan orang lain secara langsung, seperti facebook – karena sekarang aku sudah tidak memiliki account fb sama sekali), membaca buku, dan membaca posting-posting di blog banyak orang membuatku tak merasa kesepian. Banyak hal yang kudapatkan, hal-hal tentang dunia yang selama ini belum pernah aku tau dan jumpai, dan itu membuatku senang.
Akhirnya kutemukan juga kebenaran kata-kata ini :
TRY AND YOU WILL UNDERSTAND